Sunday, November 17, 2019

Kepada Mirna

Kepada Mirna, 
akhir-akhir ini aku selalu memikirkanmu. 
Oh, Mirna, 
si gadis paruh baya, putih berkebaya, 
murni bersahaja

Sosok tak pernah terbayang,
Namun namamu terus melintas, 
sekilas terulang, 
disebut, runut, berturut-turut,
seketika amarah pun surut,
pada Mirna Aku terlarut

"Siapakah engkau?"

Mirna, Mirna,
Hyang Widi berbisik,
lembut menyapa, 
menyentuh tepian sukma,
Mirna, Mirna
sandingan mentari,
cahaya tak kenal sirna,
hangatnya tak pernah sia-sia
Mirna, Mirna, 
hantarkan aku pada pembebasan itu!


Nov 15, 2019

Thursday, October 31, 2019

Teruslah Mencari Diri yang Sejati

Kondisi manusia itu on dan off. Sedih lalu bahagia, sakit kemudian sembuh dan sehat. Marah lalu tenang. Riang lalu di suatu saat murung dan masih banyak lainnya lagi. Hal tersebut terus silih berganti datangnya. Masa lalu seringnya menjadi pengingat rasa di hati, lama, menahun bahkan membekas dan masa depan memicu keinginan-keinginan yang mempengaruhi tindakan pada tubuh dan pikiran akan harapan, keinginan-keinginan dan tujuan, sekarang dan seterusnya. Asumsi dan penilaian pribadi mempengaruhi bagaimana kita berperan dalam kehidupan ini, berinteraksi dengan sesama lain dan berperilaku tertentu sebagai seorang individu utuh. Kita selalu berperang di dalam perihal tersebut, disadari atau tanpa disadari. Tidak ada yang salah, karena memang otak kita bekerja untuk memproses semua itu setiap harinya, hati mengolahnya lalu tubuh mengikuti instruksi kombinasi keduanya. Ketika semua hal dimulai dari pikiran maka mengendalikannya menjadi sesuatu yang sangat penting dan pengetahuan tertinggi akan diri menjadi satu-satunya kunci untuk membawa kita pada kesadaran bahwa manusia secara alamiah adalah diri yang sejati.   

Maka, saudaraku, di waktu yang sangat singkat ini, perbanyaklah mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa. terus ucapkan namanya dalam setiap hal yang kamu lakukan, layaknya denyut jantung yang berdegup dan memompa darah dalam tubuhmu untuk terus mengalir. Ia tenang di dalam sana, namun dasyat melangsungkan sebuah kehidupan manusia. Ingatlah namaNya sebanyak kamu menghirup udara, bernafas tanpa batas. Cinta yang menggerakannya sehingga sepanjang hidup kita hanya ada kasih yang tanpa batas, tanpa menuntut balas dan welas asih. Hal ini yang membuat dunia menjadi indah dan jauh dari kebencian, hawa nafsu dan penderitaan lainnya. Semesta adalah satu dan kita ada di dalamnya, tidak terpisahkan.

Jika kamu masih belum ada di jalan tersebut, teruslah mencari. Jika tidak sekarang, pencarian itu akan terus berulang, mungkin di masa berikutnya, di kehidupan berikutnya, tetapi jangan putus asa, carilah dan ulangi sekali lagi, teruslah mencari, jangan terseret hal-hal yang bersifat duniawi. Teruslah mencari apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti! Satu sentuhan mengenai pengetahuan tertinggi di dunia ini, akan menyentuhmu di kehidupan berikutnya, berulang dan begitu seterusnya sampai kamu berada pada suatu masa bahwa kamu hanya memiliki rasa untuk mencintai semuanya ini dengan tulus. Sebuah titik, masa dimana sebagai diri sejati kamu memiliki kesadaran akan keilahian untuk memutus mata rantai tersebut, kondisi on dan off manusia. 

Oktober mengakhiri masanya, 03.27

Wednesday, September 4, 2019

Keimanan dalam lantunan puji-pujian (chanting) kepada Tuhan

Alkisah seorang suci, bernama Kabir (tokoh ini kalau tidak salah muncul sebagai penyair lirik cinta akan Tuhan) dari Varanasi yang juga seorang tokoh yang termasyur baik dikalangan Hindu maupun Muslim. Suatu ketika datanglah seseorang lelaki yang sangat putus asa akan hidupnya dan memutuskan untuk bunuh diri di sungai Gangga, sungai yang dianggap suci dan dipercaya bisa membersihkan jiwa-jiwa dari dosa. Maka sebelum bunuh diri ia berniat bertemu dengan Kabir, setidaknya sekali saja. Ia mengerti bahwa bunuh diri adalah sebuah kejahatan dan dosa, ia berpikir, jika sebelum bunuh diri dia bisa mendapatkan berkat dari Kabir, dosanya akan sedikit berkurang.

Maka ia mendatangi rumah Kabir, berteriak memanggil namanya dari luar rumah. Ternyata keluarlah istri Kabir dan memberitahu bahwa Kabir sedang tidak di rumah, tetapi sebentar lagi pati akan kembali pulang. Laki-laki itu bersikeras bahwa ia sangat depresi dan tidak punya banyak waktu dan harus bertemu Kabir, karena ia ingin segera mengakhiri hidupnya. Melihat laki-laki yang penuh penderitaan dan dalam keadaan tertekan tersebut, istri Kabir menyuruhnya masuk ke dalam rumah, duduk dahulu serta menyediakan segelas air untuknya, agar lebih tenang. Karena sikapnya yang lembut itu, ia menurut.

Istri kabir lalu bertanya, apa yang terjadi, kepahitan dan penderitaan berat apa yang membuatnya ingin bunuh diri?

Ia menjawab, semua, semua masalah menimpaku sehingga aku tidak mampu bertahan lagi, semua menderaku secara metal, fisikal, juga sosial. Aku kesulitan finansial, bermasalah dalam keluarga dan hal lainnya.

Maka dengan sikap yang lembut, istri Kabir bertanya apakah laki-laki itu pernah melantunkan lagu pujian-pujian kepada Tuhan (chanting)?

Ia menjawab, tidak, ia tidak punya waktu untuk hal seperti itu! Lalu ia mulai menangis dan berkata ia hanya mau bunuh diri.

Baik, sabar, jawab istri Kabir, kamu boleh tetap memutuskan untuk bunuh diri, tetapi sebelum itu coba sekarang kamu tenang, cobalah berserah pada Tuhan dengan penuh iman, lalu mulailah melantunkan pujian. Berserah dengan sepenuhnya pada Tuhan, tidak perlu lama-lama, cukup 3 kali mengucapkan nama Tuhan dengan sepenuh hati.

Sekali lagi karena kelembutannya, laki-laki itu setuju sambil bertanya, lalu nama Tuhan mana yang harus aku sebut?

Istri Kabir menjawab, Tuhan manapun, tetapi karena kamu sudah disini dan berniat bertemu Kabir maka, kamu bisa menyebutkan Ram (meskipun Kabir seorang Muslim, dia mendapatkan nama Ram dari gurunya yang seorang Hindu dan saat melakukan pujian Kabir menyebut Lord Ram).

Maka laki-laki itu mulai dengan duduk tenang, tutuplah matamu dan dengan seluruh penyerahan diri pada Tuhan mulainya melantunkan pujian, 3 kali atas nama Tuhan, istri Kabir menjelaskan. Ia mulai melakukannya perlahan dengan penuh keimanan, ia mulai melantunkan pujian sekali dengan sikap keimanan berpasrah seutuhnya pada Tuhan. Beberapa saat berlangsung dan setelah ketiga kalinya melakukan chanting, laki-laki itu masih menutup matanya, duduk terdiam dengan tenang di situ, waktu berjalan bahkan hingga 1 jam berlalu. 

Ketika ia membuka matanya istri Kabir ada di depannya dan berkata, baiklah karena kamu sudah 3 kali melakukan puji-pujian pada Tuhan, kamu boleh melakukan apapun yang ingin kamu putuskan dalam hidupmu.

Tetapi laki-laki itu berkata, aku akan pulang dan kembali ke tempatku dengan hal baru dalam hidup ini. Istri Kabir berkata, kamu ke sini hendak bertemu Kabir, tunggulah beberapa saat lagi.

Tidak, jawabnya, aku kesini hanya karena merasakan penderitaan yang amat dasyat, tetapi setelah melantunkan pujian pada Tuhan dengan 3x, aku sudah terbebas dari penderitaan ini semua, maka aku tidak membutuhkan Kabir lagi. Lalu ia pergi dan kembali pulang ke rumahnya serta mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.      

Saat Kabir kembali, Ia bertanya pada istrinya apakah ada orang yang berniat bertemu dengannya? Lalu istrinya menceritakan semua hal tentang laki-laki tersebut, bahwa ketika ia menyuruh laki-laki itu menyanyikan pujian pada Tuhan secara tidak sadar ia masuk ke dalam meditasi dan merasakan
kedamaian.

Mendengar hal tersebut, Kabir menjadi marah dan berkata, apa yang sudah kamu lakukan? Kamu tidak bisa melakukan hal seperti itu, untuk bebas dari kesengsaraan, hanyalah cukup melakukannya sekali dengan penuh penyerahan seluruh keimanan pada Tuhan, tetapi kamu menyuruhnya untuk melakukannya sebanyak 3x dan itu sudah berlebihan. Atas apa yang kamu lakukan maka kamu tidak pantas lagi menjadi istriku.

Lalu istri Kabir menghampiri dan bersujud di kakinya sambil berkata, mohon dengarkan dahulu penjelasanku. Dengan berserah penuh pada Tuhan dan kesadaran penuh aku telah menguatkan imanku dan memberanikan diri menyuruh laki-laki yang penuh penderitaan tersebut melantunkan pujian pada Tuhan sebanyak 3 kali. Seperti yang ada dan tertulis dalam kitab, bahwa ada 3 jenis penderitaan yang selalu menimpa manusia; 1. Penderitaan baik mental maupun psikis 2. Penderitaan yang terjadi dari alam, seperti bencana alam, gempa bumi dan yang ke3 penderitaan yang disebabkan oleh orang lain. Dengan melakukan 3x chanting, aku mencoba memastikan semua kepahitan dan penderitaannya terhapuskan, laki-laki malang tersebut telah mengalami ketiga penderitaan tersebut.                                                                                                      
Kisah ini sebenarnya  memiliki makna mendalam tentang keimanan kita dan penyerahan kita kepada Tuhan. Kekuatan dalam melantunkan pujian Tuhan (chanting) sangat membantu saat meditasi. Terutama bagi kita yang baik pikirannya belum siap, belum cukup kuat dan belum cukup mantap saat memulai meditasi. Melakukan chanting dengan sungguh-sungguh dan penuh penyerahan pada Tuhan akan membantu kita untuk membersihkan pikiran dengan mendalami arti dalam syair chanting tersebut.

Diterjemahkan kembali dari kelas Vedanta Swami Ji Srigunananda, Agustus 3, 2019

Chadariya Jhini Re Jhini - Song of Kabir

Friday, July 26, 2019

Platonic Love

Touching the platonic love, 
as I love you means I love the beauty of human beings in you
Sensing the platonic love, 
as I love you means I accept the good and bad in you
Sharing the platonic love in me, 
as I love you means a transformation of my tolerance into my appreciation  


Rasuna Said, July 26, 2019                           

Tuesday, July 23, 2019

12 Juli 2009

Menemukan arti kearifan pada dirimu,
langka, menakjubkan juga indah
berlangsung dan dipupuk tahunan lamanya,
Kamu, adalah cinta yang ingin aku getarkan
degup yang ingin terus kupacu
kilau yang tak ingin kupadamkan

padamu, jalan-jalan alternatif diciptakan,
pertalian insan pada sebuah kesejajaran,
saat mimpi tak perlu disatukan bila arah tidak sepadan,
Padamu, rentang waktu terasa lebih manis,
meski sendu menggelayut jiwa,
sesekali, aku tak berkeberatan
Ingatkah bentangan masa itu?

Sebuah ruang, untukku berlari bergerak sebebasnya,
membawa senyum juga gelak tawamu
sambil membayangkan raut tegar lelakimu
bahkan ketika kulihat yang lain perlahan berguguran
Terima kasih untuk kekuatan itu,
perjalanan bersama 10 tahun lamanya,
Terima kasih untuk kesabaran itu
untuk bertahan bersamaku,
dan mengijinkanku memiliki andil dalam hidupmu


Friday, May 17, 2019

Hujan yang Menghilangkan

Katakan saja kau bersedih,
pada hujan yang kau nanti
ia tak pernah kunjung datang,
meski mendung telah memberi kabar,
kilat tak menyangkal, menggelegar
kecewamu bergelut pada kebisuannya
sejuta tanya bersembunyi, menuntut jawab
karena tatapan sungguhlah nyata,
hanya rupa mudah terlupa, karena itu-itu saja
dan kau merasakan geram itu,
tetapi hujan belum lagi turun singgah
ia pikir daratanmu tidak begitu penting,
dan rimbamu cukuplah belantara
laut dan sungaimu masih punya banyak muara
Mungkin jiwamu saja yang terlalu gaduh,
ingin berlabuh pada yang rapuh,
melansir serangkaian prakiraan cuaca buta
tentang angin dingin, gelap, kabut, petir lalu
kau pikir pasti hujan datang,
tapi ia tak perlu datang,
ia masih ingin menari-nari diatas sana,
terkadang mengawang punya kesenangan
dan hatimu menjadi semakin kering
seperti haus di kerongkongan,
setiap ucap berubah terbata-bata
suaramu sudah parau,
terlalu lama tidak terdengar
dan kau pun sudah lama hilang




bilangan Jakarta Utara, 2018

Thursday, March 14, 2019

Sawang Sinawang

Memandang bulan separuh semangka,
bayan nan lugas,
merajai mega-mega
Indah
Berkancah bintang,
megah singgasana malam,
Cahaya bulan tempias temaram
tenang merayap,
mengirim pesan di mimpi dan angan
Ia setia,
menggaris waktu sebelum fajar
menakjubkan, sungguh

Ia menatap balik,
si biru padat, seisinya
warna pun liuknya,
benua, pulau, gunung, gurun,
samudera, hutan lalu lautan,
menilik cemburu
Bumi yang ditinggali manusia
bersama cintanya
Disihir
seharian penuh,
tanpa pangkal ujung

Sudah tersurat alam
semesta terus saling membelakak,
dalam benak penuh makna,
ilustrasi kehidupan

Aah, sawang sinawang!


Kemang, 13/3/20019