The one important journey in life is the center of ourselves - to that point where we can gather the courage to follow our heart
Friday, January 1, 2021
I am not the body, I am not the mind
Thursday, December 31, 2020
Tak ingin berpaling lagi
Ia sudah lama memanggil,
sebegitu lamanya,
puluhan tahun,
ribuan abad,
jutaan kenangan,
musim berubah
masa berganti
Sekitarku terlalu bising,
hiruk pikuk,
riuh rendah
rupa rupawan
gerak gerik
.. dan aku pun ikut berisik,
bolak balik
pasang surut,
suara menjadi tidak terdengar,
selalu masih ada,
sayup.. meski belumlah sampai
Pada kilas kembali,
tandanya sungguhlah jelas,
meski tak semudah titik dan temu
sayangnya tak pernah terbaca
Terkadang meski mata tercipta sempurna,
mereka tak pernah benar-benar melihat
maka memejamkannya
mampu membuka yang utama
Lalu, ketukan itu menjadi jelas
semakin keras, indah berirama
Jika pintu mampu dibuka
oleh inderawi yang ditutup
maka terang hanya tersadar
dengan adanya kegelapan
Aku mendekatiMu,
madah ilahi,
bersemayam keheningan
Maka aku tak ingin berpaling lagi
Tuesday, December 22, 2020
Suddhosi Buddhosi (Madalasa' Song)
Suddhosi Buddhosi Niranjanosi
Samsara maya parivar jitosi
Samsara svapanam tyaja mohanidram
Setiap ibu adalah guru pertama dari setiap manusia. Melalui ibu pelajaran pertama tentang kehidupan diturunkan, perihal cinta kasih, kebajikan dan seluruh rahasia alam semesta. Dari sekian banyak cerita heroik tentang tokoh ibu, cerita tentang Madalasa (dalam teks Sanskrit Markandeya Purana) adalah salah satu yang membuat saya takjub dan menjadikannya terfavorit.
Dinarasikan ketika putra Madalasa menangis, aling-aling menghentikan tangisannya dengan mengalihkan pada hal-hal yang bersifat duniawi (boneka atau mainan), Madalasa menyenandungkan lagu Suddhosi Buddhosi (bahasa Sanskrit). Lantun yang juga biasa disebut Madalasa Upadesha memiliki lirik seruan-seruan bijak pengingat tentang kebenaran diri sejati setiap manusia. Cerita yang menurut saya sangat unik dan indah sekali mengenai makna peranan spiritual seorang ibu. Seorang ibu yang berusaha menenangkan sang anak di tengah kebingungan dan ketidakberdayaannya sebagai manusia baru lainnya. Sang ibu (Madalasa) mengajarkan sedini mungkin bahwa satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan sejati hanyalah melalui proses kembali ke dalam diri, bukan hal-hal lain di luar dirinya. Tuntunan agar sang anak tidak mudah terjebak dan terikat pada dunia ini, kemelekatan yang lambat laun membutakan kita bahwa sejatinya kita adalah suddha (murni), buddha (sadar) dan mukta (bebas). Ada banyak nasihat bijak yang bisa diadopsi setiap ibu dalam lirik lagu tersebut, pengetahuan tertinggi yang baik untuk terus menerus disampaikan lewat indera pendengaran setiap anak sebagai sentuhan pertamanya pada jalan keilahian.
Selamat hari ibu 🕯🤍🙏
Referensi:
The Story of Madalasa (Markandeya Purana chapter 25-30)
Suddhosi Buddhosi (animasi) part 1
Suddhosi Buddhosi (animasi) part 2
Tuesday, November 17, 2020
Bahasa Sansekerta
Jangan salah mengartikan bahasa Sanskerta. Kumpulan kata atau bahasa Sanskerta lewat tradisi Hindu sering disalahartikan dan dikaitkan dengan hal-hal atau ilmu-ilmu yang bersifat gaib/mistis. Lagi-lagi kata gaib dan mistis juga memiliki konotasi tersendiri pada pengertiannya. Memanglah manusia umumnya sering kali memiliki proyeksi tertentu ketika dihadapkan pada pengetahuan lain. Ada sekat-sekat yang dibangun secara otomatis oleh sistem otak limbic kita untuk berusaha menyortirnya berdasarkan apa yang sudah tersimpan sebagai pengetahuan/ilmu mendasar atau pribadi. Tetapi belajar apapun memanglah tidak ada yang singkat atau sekedar instan. Seperti seorang bayi yang mulai belajar mengeja sampai menyimpan kata dan bahasanya begitu pula sebaiknya kita yang sudah dewasa. Being novice ~ istilah mantulnya 🥰
Berikut sedikit kata/bahasa Sansekerta yang sering beredar luas di sekitar kita dan baik juga untuk diketahui makna mendalamnya terlepas dari makna populer yang telah diadopsi secara umum ☺️💡🙏
SAKTI dari śakti (√śak) berarti mampu, cakap, kuat; kemampuan; energi, daya. Karena kekuatan atau energinya itu, seseorang yang śakti mampu menundukkan, mengendalikan dirinya. Perempuan juga disebut śakti (energi dalam diri) karena mengandung & melahirkan anak perlu kekuatan besar. Setiap manusia memiliki esensi sakti dalam dirinya masing-masing.
(SAKTI) MANDRAGUNA dari mandra-guṇa berarti memiliki sifat/kualitas (guṇa) yang bagus, menawan, menyenangkan (mandra). Mencapai kualitas ini tidaklah mudah. Ke-śakti-an, kemampuan (keahlian) kita perlu selalu diasah. Tidak berhenti pada suatu titik dan menetap selamanya.
TAPA sering diartikan pergi ke gunung, gua, menyepi. Asalnya dari √tap = memanaskan. Seperti ketika sedang memanaskan air, sedikit demi sedikit suhunya naik hingga suatu saat mendidih. Tapa adalah segala bentuk disiplin, fokus - mau di gua atau di sekolah dsb untuk meningkatkan diri dan kedisiplinan.
SEMEDI atau SEMADI juga sering dipahami seperti bertapa. KKBI pun mengartikannya sebagai pemusatan pikiran dan perasaan, meditasi. Padahal Semedi atau Semadi (samādhi) adalah buah dan hasil dari berlatih meditasi itu sendiri yaitu terjadinya keseimbangan diri sehingga kita tidak terombang-ambing suka-duka kehidupan. Dalam kondisi apapun manusia menemukan ketenangan diri, tidak mudah bereaksi (terutama reaksi-reaksi negatif) atau galau dan baperan dalam bahasa gaulnya 🤭
KARMA. Mereka bilang; "Biar aja nanti kena karmanya!" Kita mengungkapkan hal itu sebagai pengertian bahwa Karma adalah balasan, padahal karma berarti tindakan, perbuatan. Setiap karma, tindakan, aksi akan selalu diikuti oleh phala (buah) -pahala, hasil, reaksi, konsekuensi. Karma tidak selalu (punya konsekuensi) jelek, ada juga yang (konsekuensinya) baik, diharapkan dan indah.
MOKSA sering dianggap hilangnya badan entah ke mana. Mokṣa adalah 1 dari 4 tujuan hidup manusia yg perlu dicapai dalam kehidupan ini tidak menunggu mati. Dari √muc, mokṣa berarti bebas - pembebasan, merdeka dari keterikatan dan kemelekatan sehingga tidak lagi menjadi budak nafsu, keinginan dsb atau bebas secara umum. Keinginan mencapai 'moksa' bukanlah sekedar 'pergi' atau melarikan diri dari dunia. Mereka yang sudah moksha malah sengaja "turun" ke dunia utk membantu perkembangan makhluk-makhluk lainnya. Mereka tdk naik-pergi (ascending), tetapi turun (descending). Itulah makna kata avatāra - ia yg turun.
MANTRA bukan sekadar jampi-jampi yg diucapkan dukun atau pawang seperti kata KBBI. Man-tra berarti instrumen (tra) pikiran (man) yg digunakan utk membantu kita mengendalikan pikiran. Menyatukan instrumental yang ada di alam semesta dengan apa yang berusaha terus menerus kita pikirkan (lewat mantra). Hal tersebut akan secara perlahan-lahan dan kemudian menjadi otomatis menciptakan kondisi pikiran yang tenang dan terkendali yang membuat kita śakti, mampu mengatasi masalah yang dihadapi dalam keseharian.
Satu kata punya seribu makna, memaknainya hanya perlu rasa yang baik dari dalam diri kita masing-masing. Menggali sebuah pengertian terhadap bahasa juga merupakan upaya diri memahami sesama 🤗💐🙏
Sumber: Made Harimba
Friday, October 30, 2020
Sosok Ilahi
Keilahian sering kali digambarkan pada sesuatu yang indah-indah atau sosok yang menarik dan suci. Mengapa demikian? Hal tersebut sangatlah lumrah karena sebagai manusia kita percaya bahwa yang ilahi adalah wujud ideal tertinggi. Maka segala yang ideal mendaulat tampilannya menjadi sesuatu yang indah dan baik. Sayangnya kita juga sering lupa bahwa keilahian sendiri berada dan menyatu dalam bentuk manusia fana. Keilahian juga tidak mungkin dicapai tanpa melalui bentuk yang fana tersebut, yaitu tubuh manusia. Pada awalnya pengertian ilahi yang tidak bisa kita definisikan dalam satu rupa menciptakan berbagai macam sosok ilahi sebagaimana tiap-tiap kepercayaan ingin direpresentasikan. Nyatanya tanpa kita sadari jarang sekali kita bisa menemukan sosok ilahi dalam bentuk rupa menakutkan, mengerikan dan jauh sama sekali dari keindahan. Tidak ada yang salah, karena pun ketika sosok ilahi ditampilkan dalam rupa-rupa nan elok, cantik-tampan dan suci, toh manusia jelas-jelas lebih mudah untuk memilih menjadi laku yang tidak elok, tidak cakap bahkan jauh dari suci sama sekali.
Dari sekian banyak tampilan sosok ilahi, saya dan mungkin kita semua telah terbiasa melihat hal yang sedikitnya merupakan gambaran-gambaran yang sempurna, bukankah kita juga ingin terlihat sesempurna Tuhan? Tetapi apakah artinya 'terlihat' jika kita sendiri tidak mampu melihat, mencari bahkan menampil bentuk kesempurnaan diri sejati? Sedikit sekali saya bisa menemukan bentuk dan gambaran sosok ilahi yang ditampilkan dalam rupa menakutkan, mengerikan bahkan sadis. Tetapi sejatinya adalah perwakilan keilahian dalam bentuk fana. Chinnamasta, sosok ilahi yang mewakili Atma-yajna dalam kepercayaan Hindu, Dewi tanpa kepala. Ia yang memanifestasikan pengorbanan diri yang diwujudkan ketika seseorang menyatukan dirinya atas kebebasan tertinggi sebagai bentuk keilahian melalui transformasi sebuah tindakan pengorbanan. Mengorbankan salah satu bagian terpenting dari bentuk fananya yaitu kepala. Kepala dimana segala pikiran dan pemikiran manusia bersemayam, simbol ego diri manusia. Manusia begitu mencintai pikiran, pemikiran sehingga manusia juga melekat erat dengan ego dan jauh dari idealisme tertinggi tak terbantahkan. Tidak ada yang mudah ketika dalam proses pencarian Diri Sejati, tidak ada yang sekejap dalam menemukan sosok ilahi di dalam diriMu. Seperti menaklukkan tubuh fana dan membebaskannya dari pikiran, begitulah yang dilakukan Chinnamasta. Menjadi terlihat elok dan cakap sayangnya memang cukup mudah bagi manusia, tetapi menjadi Ilahi hanyalah mungkin diakui oleh mata batin sendiri.
🌼🌺🌻🌸
Selamat hari Tuhan, sudahkah anda 'memenggal kepala' anda sendiri? ❤️🙏
Referensi Chinnamasta
Revised 18/10/2020
Sunday, October 11, 2020
Kutastha
Dalam cahayaMu ada Aku
CahayaKu adalahMu
HidupKu adalah kobaran nafasMu
Kehadiran tidak pernah nyata,
karena yang nyata tidaklah pernah hadir,
Ialah satu dari segala
Jika mencinta adalah ruang tanpa tepi, tanpa jarak, tanpa syarat,
tanpa ada tanpa
maka Ia terapung di lautan asmaradana keilahian,
tenggelam di keabadian
revised 8/8/2020
Tuesday, September 1, 2020
Outer Silence VS Inner Silence
When you are seeing, hearing, touching, smelling, tasting, thinking, perceiving and doing everything you are also breathing. In healthy condition breathing is free.
Because it is free then your awareness of what you provide to be consumed by your mind during breathing process will be lessen. The mind control of external circumstances also become loose even vanish. Then you'll be react easily based on what your five senses send to your mind. Sometimes it happened suddenly, sometimes you wait a little bit longer, but still, you will react. It's only about the matter of time as you are only postponed to react and unfortunately you brought the reaction(s) and hold it into your mind. It is the real and simply example of the different between outer silence and inner silence. Outer silence is just literary. It doesn't mean much while your mind is still running here and there, of course nobody knows, only you. Inner silence doesn't need a quite place or an empty room to shut down the mind. You can control it just like that. With inner silence you can still feel calm and bliss even in the middle of heavy party with a loud of music and lots of people.
![]() |
| Theodor Adorno's desk at Frankfurt |
In other hands, outer silence will bring you to no where and depends on the circumstances or other people surround you. But deeply inside, you know, actually you don't. Inner silence is totally independent. It is like a moving glass room of a strong relationship only between you and God and God within you in every place you go, stay and untouched.
Practice your inner silence and not outer silence as it is still connected with the silence of your sense organs. Only think about yourself and love others compassionately ☺️💐🙏
a strong message on meditation, discussion and self reflection, Hmpp Center 1/9/2020
Monday, August 31, 2020
Anak Manusia
Anak manusia*
bercakap-cakap dengan senja
perihal rupa, ruang dan senyap
Mata itu Dia,
senyum itu Dia,
wajahNya,
Wahai pencipta, penghuni relung segala damba,
bersemayamlah,
pada setiap tarikan nafas,
selaksa lantun denyut nadi,
alunan sumsum tulang belakang,
Maha pencinta, Diri semesta
penghantar rayuan temaram hangat sinar purnama
Anak manusia*
bersenda gurau pada jingga,
tertawa, menari sambil bernyanyi,
berlaku suka cita, senantiasa raga merasa
sedikit lagi, diulangi kembali
sedikit lagi, maka mulailah,
bersabarlah ..
Pada mulanya Ia sabda,
menjelma darah dan daging,
tumbuh bersama kitab dan puisi
Aku ini sementara anak manusia,
berkelana mencari sang Sejati,
mencintaiMu serupaKu
Pada manusia ada senja dan jingga,
Ia rupa, ruang dan senyap
terselam di kesadaran jiwa,
setitik dari yang terdalam,
perolehan tak batas dan tanpa henti,
Akulah Ia*
* entering September, the month of divine ❤️
".. and when you are fall in love, you just don't want to stop singing and dancing. It's like a strong relationship that makes your heart beating everyday, every hour and its second. That's why you have to feel the way in fall in love with Him then you will see Him in every person you meet in your day to day lovely life."
Friday, August 21, 2020
pratibodhaviditaṁ mataṁ hi amṛtatvaṁ vindate
The feeling of misery and peaceful is not the true Self, as it is still attached with the mind that you aware of. The true bliss is untouched from both of them in everything that you do in your life. In Kena Upanishad it was said; "pratibodhaviditaṁ mataṁ hi amṛtatvaṁ vindate."
~When It is known by perception that reflects It, then one has the thought of It, for one finds immortality~
* Every experience of Your life; the feelings, memories and emotions are the proof that You are the true witness, the conscious Self. And when You realized the infinite existence in life, not just in the temple or the church, not just at the time of praying even not just when you are in Samadhi, but also when you are talking, thinking or even laughing - untouched by the feeling which is projected from the mind as the true witness, that is the true bliss, the Self. When the Self is realized that is immortality 🌸🍀❤️🙏
10:11 - IB Center
Tuesday, August 11, 2020
My Raghunath
Tuesday, July 21, 2020
Kematian part.2
Ada suatu ketika saya pernah membayangkan bahwa kematian juga seumpama kita yang sedang bersiap-siap memegang tiket antrian, sebuah nomer kematian. Setiap orang punya. Ironisnya meski sudah bersiap-siap dengan nomernya masing-masing (tentunya yang saya maksud adalah umur) tetap saja dilalah nomer lain yang dipanggil (Kematian part.1). Ketika saya membaca kembali apa yang pernah saya tulis, saya jadi tersenyum-senyum sendiri dengan apa yang pernah saya pikirkan. Satu tema sama dengan cara melihat yang berbeda, dari satu diri yang melewati fase waktu berbeda, ada yang mendekati, juga yang berbeda sama sekali, tetapi jelas berubah. Menyadari projeksi pengandaian yang saya ciptakan sedemikian rupa saat itu, saya menarik benang merah, bahwa apa yang saya bayangkan saat itu dengan apa yang sekarang ini saya yakini terletak pada perbedaan pemahaman akan sebuah kesadaran jati diri dalam melihat sebuah kematian. Kesadaran yang seperti apa? Tentunya bukan kesadaran yang kebanyakan dibayangkan orang ketika kita berbicara tentang kesadaran pada umumnya. Kesadaran umum hanya memberi pemahaman bahwa realitas kematian yang selama ini diyakini mengandung sebuah konsep waktu, datang dan pergi, ada lalu tiada, muncul dan hilang, hidup lalu mati. Tetapi kesadaran tertinggi adalah diri sejati. Hal ini bukanlah sebuah klaim keangkuhan yang berusaha menyatakan bahwa ia sudah melekat erat ketika kita mengetahuinya. Karena dalam konsep mengetahui lalu melekat membutuhkan tubuh dan pikiran, sementara diri sejati terbebas darinya. Kesadaran tidak pernah berdiam. Ia adalah sebuah perjalanan tanpa titik awal dan akhir, selalu ada hanya pada titik kesadaran akan keberadaan saat ini, bahkan ketika membaca tulisan saya ini. Diri sejati yang bersemayam dalam tubuh manusia sebagai cangkang sementara tidaklah pernah lenyap. Ia bukan tubuh juga bukan pikiran, baik lewat ingatan maupun kejadian-kejadian alamiah manusiawi yang berlangsung dalam kehidupan manusia itu sendiri. Ia masih akan ada dan satu dengan kita dalam bentuk dan rupa yang tak terbatas, melampaui proses-proses kelahiran juga kematian (konsep waktu). Tentu saja secara kasat mata, kita manusia tidak bisa mengenalinya kecuali membawanya pada pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan yang bersumber pada intelektual diri sejati. Intelektual atau kebijakan yang mengendalikan pikiran lewat lima tahapan yang terus menerus harus dilewati dan diasah (tahapan pertama: mendengarkan lalu mengetahui tentang pengetahuan apa yang disampaikan, tahap kedua, memahaminya secara utuh baik lewat pemikiran dalam mempertanyakan kembali atau beargumentasi, tahap ketiga bentuk kontradiksi proses - mengerti tetapi tidak mengaplikasikannya dalam hidup, istilahnya hanya pemahaman sebatas teori, tahap keempat bermeditasi, tahapan yang terakhir - bukan hanya mengetahui, memahami, memikirkan dan mempertanyakannya kembali tetapi hal itu nyata dalam hidup saya, termanifestasikan dan teraplikasikan secara murni dalam kehidupan saya saat ini)*. Intelektual dari pikiran yang selama ini kita asumsikan sebagai suatu pandangan yang nyata sebagai diri pada posisi yang mengalaminya. Meski sesungguhnya juga bukan.
![]() |
| Add caption |
*Manisha Panchakam (lima tahapan yang ada dalam salah satu jalur penyerahan, jalur pengetahuan (jnana) dalam philosophy Advaita Vedanta)
For further reference https://youtu.be/OuNEldqpNR4
Now you are alone, but alone in full consciousness mean oneness. One with me, one with them, one with universe. Completely one 🌸☘️❤️🙏
Friday, July 3, 2020
What is Your Liberation Means
It is true that finally when we can really go down dig, we will find out that the only problem is - ourselves, yourself! But unfortunately people don't try to identify the problem in the very root cause, rather we are always busy on complaining about others, complaining about our conditions and other things which actually was created by ourselves of our own mind. The whole life we live by seeing the same sky but having so many repeating same problem, this problem, that problem, lots of problems. In other hands, we keep busy in pointing others and condition surrounds us as problems but still couldn't find the solution. Or maybe we just don't want to find it. We keep our problem for so long and holds them as part of our life. Sometimes we don't realize that the solution is very simple by just leaving the problem. But then in 'leaving' process sometimes people forget to 'letting go and moving on'. In leaving the problem actually you are just leave the problem behind by memorizing them in your mind but you are not finding the solution. In 'letting go' you leave the problem by closing it with the solution, you forgive everything related to the problem and get liberated from the problem itself and start to moving forward from the problem itself. Sounds easy, huh? Sounds very easy....
Once upon a time, there was a sage who share a lesson about the highest knowledge, the supreme which beyond our imagination in front of the public space. He talked about the infinite things that could save humans from their sufferings. He asked them to accept the teaching - but some people stood up and said that they didn't agree for some points from that the lesson. The sage told them that of course as a human being with our intellectual we will always have a choice; to accept them or not. After hearing what the sage told to them, they left. Then the sage continues that such lesson is not for them who are get irritated easily with some of unpopular idea, different issue beyond usual topic. But even our eyes are open, our heart might be not. Therefore people always lack of compassion. People like them are always come back again and again just to compare and find faults on others or claiming the righteousness. This kind of situation is not happened only in formal discussion but thoroughly during our life, we will find this kind of people. It doesn't mean that the teaching is only provide one idea but it is also allowing variation of infinite concept in religion thoughts. Then what's the point in seeing one specific different thoughts or pattern if we, then could really open ourselves in seeing the true meaning of our infinite. The only way to reach the liberation of all our problem and suffering is within us.
Finally, it is important for us to understand what freedom or liberation means. Freedom doesn't lays in every decision we have made nor the people that we think will be liberated us from our suffering. It is us, as it is us who made the problem then it is us who can liberated ourselves from the problem itself by finding the true nature in us, the infinite, the side of our divinity. This is not an easy path to walk with. As further wisdom and virtue needs to be implemented in our life. It also give a deep message for all of us to ensure that when you leave something behind, make sure you don't come back just for something negative, comparing which one is right and which one is not or which one is better. If you come back make sure you ready for some changes on you, only you and nothing else. Because human in form is still human, you have the side of divinity but in terms of everything it also can drag you into the side of animal instinct down deep. Then again you have to question yourself - are you really get liberated?
Wednesday, May 13, 2020
Remind Me My Lord (Who I Am)
Remind me, my Lord
Remind me, my Lord - who I Am (2x)
I Am love, I Am love, pure love (2x)
Remind me, my Lord
Remind me my Lord
Remind me, my Lord - who I Am (2x)
I Am peace, I Am Peace, Divine peace (2x)
Remind me, my Lord
Remind me my Lord
Remind me, my Lord - who I Am (2x)
I Am joy, I Am joy, endless joy
Ananda Svaroopa, hey Prema Svaroopa, Ananda Svaroopa (2x)
Shanti Om, Shanti Om, Shanti Om (2x)
Remind me, my Lord
Remind me my Lord
Remind me, my Lord - who I Am (2x)
I Am Om, I Am Om, eternal Om (2x)
Shanti Om, Shanti Om, Shanti Om (2x)
A beautiful song by Swami Nirvanananda Saraswati ☘️🌹🙏
(Vedanta Society of Southern California)
https://youtu.be/dygPg6yTLWY
Thursday, April 30, 2020
The Opposites
My great great great and very great Freud teach me how to do it,
When you said open,
they closed
you said come on,
they go,
You said no,
they just did,
you ask please hold them
they release them
You said please build up,
they destroy it
You said please remember,
they forget intentionally
You said good,
they said bad
Because people full of ego, anger, pride and jealousy.
They tends to the opposite ways,
don't like make people happy,
but they pursue their own happiness
So sadness..
Then the idea came up,
to control them, said Freud!
Wow! It becomes very, very easily,
If you want it closed,
ask them to open it
If you want they go,
just said please come,
If you want they do it,
just said don't,
If you want they release,
ask them to hold it,
If you want it being destroyed
Just said build it up,
If you want them to forget,
Said please remember
You want them said it is bad?
Just said that it's good
In the past I practice and it was pretty successful
It's the power of language!
time flies, people still the same,
again they full of ego, anger, pride and jealousy
They tends to the opposite ways,
People don't like make other satisfied,
unfortunately they pursue their own satisfaction
So sadness.. So so sadness!
Why can't their heart see the beauty in others?
Why can't they feel the great things in others?
Why can't be humble to each other?
Why? Why?..
and I cry, cry and cry..
how cruel people are,
how such cruel things..
Then He comes,
touch my forehead,
why you are asking?
Close your eyes, my child!
I touch His hands
Just like that,
Just like that
He said, leave them all,
Follow me!
I leave them all and I follow Him
.. and it's not the thing in the opposite side.
20/04/2020
Tuesday, April 21, 2020
Mengapa?
Tapi mengapa harus melakukan kedua hal diatas tersebut, bagaimana kalau kita balik?
Ya, mengapa kita harus berhenti menggunakan kata tanya "mengapa?"
Bisa mengikuti? Tidak bisa, mengapa?
Saturday, April 18, 2020
Rindu Jalan Pulang
setapak jauh kian sesakkan dada
Seraut wajah Tuhan,
orang-orang yang terkasih
Genggam yang berjarak,
rajutlah di hatimu,
dekat sekali, terhubung di langit yang sama
Semesta adalah kita,
maka bertemu datang saat mata terpejam
Masihkah kau rindu jalan pulang?
10 April, 2020
untuk yang sedang merindu kampung halangan 🙏





