Friday, January 1, 2021

I am not the body, I am not the mind

Perfect human consider to have complete function of body and mind. But human with ignorance always make a false identification of themself. We are wrongly identify ourself with our body and our mind. This condition is the main problem of all our suffering; physical pain or emotional discomfort. As long as you have them, both seems unescapeable. 

In the teaching of (Advaita) Vedanta, your physical pains belong to your body and your emotional pain and discomfort belongs to your mind. Neither of this truly belongs to You. They are not You. Why? Because the true You is not a collection of bones, organs, blood and others, nor every complicated thoughts and every changing emotion you have. The problem appears is belong to them, the body and the mind, unfortunately you mistakenly identified as You. The profound of spiritual wisdom in Vedanta about the highest knowledge for four decades try to eliminate this by seeing the root cause of human's suffering and removing this human false identification as human ignorance.

As our body is a material object and subject to physical pain and our mind is a subtle or non material which are subject to emotional pain or discomfort, therefore it is not our true nature. We are not a thing but conscious being or Inner Self (Atman). The highest knowledge that the body can be distanced from one's sense of the Self and the Self is a silent witness of all thoughts which comes and go, witness of every single emotion. Atman - the consciousness or the awareness of the world around you and by which you observe your thoughts and emotion as they arrive in your mind. Again to highlight, we fail to identify our true nature and become subject to our suffering. This is why (Advaita) Vedanta emphasis the importance of Self Knowledge. Consciousness is the the true Nature of you. Consiousness is unborn and uncreated, it is formless and limitless. Consciousness is perfect, complete and unaffected with worldly troubles  - it's divine, it direct recognition of your own eternal divine limitless Inner Self.

Happy New Year 2021, 
Know Thy Self 🕯🤍🙏

Thursday, December 31, 2020

Tak ingin berpaling lagi

Ia sudah lama memanggil, 

sebegitu lamanya,

puluhan tahun, 

ribuan abad,

jutaan kenangan,

musim berubah

masa berganti


Sekitarku terlalu bising,

hiruk pikuk,

riuh rendah

rupa rupawan

gerak gerik 

.. dan aku pun ikut berisik,

bolak balik 

pasang surut, 

suara menjadi tidak terdengar,

selalu masih ada,

sayup.. meski belumlah sampai 


Pada kilas kembali,

tandanya sungguhlah jelas, 

meski tak semudah titik dan temu

sayangnya tak pernah terbaca

Terkadang meski mata tercipta sempurna,

mereka tak pernah benar-benar melihat

maka memejamkannya

mampu membuka yang utama

Lalu, ketukan itu menjadi jelas

semakin keras, indah berirama


Jika pintu mampu dibuka

oleh inderawi yang ditutup

maka terang hanya tersadar

dengan adanya kegelapan

Aku mendekatiMu, 

madah ilahi, 

bersemayam keheningan

Maka aku tak ingin berpaling lagi

 

Tuesday, December 22, 2020

Suddhosi Buddhosi (Madalasa' Song)


Suddhosi Buddhosi Niranjanosi

Samsara maya parivar jitosi

Samsara svapanam tyaja mohanidram 


Setiap ibu adalah guru pertama dari setiap manusia. Melalui ibu pelajaran pertama tentang kehidupan diturunkan, perihal cinta kasih, kebajikan dan seluruh rahasia alam semesta. Dari sekian banyak cerita heroik tentang tokoh ibu, cerita tentang Madalasa (dalam teks Sanskrit Markandeya Purana) adalah salah satu yang membuat saya takjub dan menjadikannya terfavorit. 

Dinarasikan ketika putra Madalasa menangis, aling-aling menghentikan tangisannya dengan mengalihkan pada hal-hal yang bersifat duniawi (boneka atau mainan), Madalasa menyenandungkan lagu Suddhosi Buddhosi (bahasa Sanskrit). Lantun yang juga biasa disebut Madalasa Upadesha memiliki lirik seruan-seruan bijak pengingat tentang kebenaran diri sejati setiap manusia. Cerita yang menurut saya sangat unik dan indah sekali mengenai makna peranan spiritual seorang ibu. Seorang ibu yang berusaha menenangkan sang anak di tengah kebingungan dan ketidakberdayaannya sebagai manusia baru lainnya. Sang ibu (Madalasa) mengajarkan sedini mungkin bahwa satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan sejati hanyalah melalui proses kembali ke dalam diri, bukan hal-hal lain di luar dirinya. Tuntunan agar sang anak tidak mudah terjebak dan terikat pada dunia ini, kemelekatan yang lambat laun membutakan kita bahwa sejatinya kita adalah suddha (murni), buddha (sadar) dan mukta (bebas). Ada banyak nasihat bijak yang bisa diadopsi setiap ibu dalam lirik lagu tersebut, pengetahuan tertinggi yang baik untuk terus menerus disampaikan lewat indera pendengaran setiap anak sebagai sentuhan pertamanya pada jalan keilahian.

Selamat hari ibu 🕯🤍🙏


Referensi: 

The Story of Madalasa (Markandeya Purana chapter 25-30)

Suddhosi Buddhosi (animasi) part 1

Suddhosi Buddhosi (animasi) part 2

Suddhosi Buddhosi by Gaiea







Tuesday, November 17, 2020

Bahasa Sansekerta

Jangan salah mengartikan bahasa Sanskerta. Kumpulan kata atau bahasa Sanskerta lewat tradisi Hindu sering disalahartikan dan dikaitkan dengan hal-hal atau ilmu-ilmu yang bersifat gaib/mistis. Lagi-lagi kata gaib dan mistis juga memiliki konotasi tersendiri pada pengertiannya. Memanglah manusia umumnya sering kali memiliki proyeksi tertentu ketika dihadapkan pada pengetahuan lain. Ada sekat-sekat yang dibangun secara otomatis oleh sistem otak limbic kita untuk berusaha menyortirnya berdasarkan apa yang sudah tersimpan sebagai pengetahuan/ilmu mendasar atau pribadi. Tetapi belajar apapun memanglah tidak ada yang singkat atau sekedar instan. Seperti seorang bayi yang mulai belajar mengeja sampai menyimpan kata dan bahasanya begitu pula sebaiknya kita yang sudah dewasa. Being novice ~ istilah mantulnya 🥰


Berikut sedikit kata/bahasa Sansekerta yang sering beredar luas di sekitar kita dan baik juga untuk diketahui makna mendalamnya terlepas dari makna populer yang telah diadopsi secara umum ☺️💡🙏


SAKTI dari śakti (√śak) berarti mampu, cakap, kuat; kemampuan; energi, daya. Karena kekuatan atau energinya itu, seseorang yang śakti mampu menundukkan, mengendalikan dirinya. Perempuan juga disebut śakti (energi dalam diri) karena mengandung & melahirkan anak perlu kekuatan besar. Setiap manusia memiliki esensi sakti dalam dirinya masing-masing.


(SAKTI) MANDRAGUNA dari mandra-guṇa berarti memiliki sifat/kualitas (guṇa) yang bagus, menawan, menyenangkan (mandra). Mencapai kualitas ini tidaklah mudah. Ke-śakti-an, kemampuan (keahlian) kita perlu selalu diasah. Tidak berhenti pada suatu titik dan menetap selamanya. 


TAPA sering diartikan pergi ke gunung, gua, menyepi. Asalnya dari √tap = memanaskan. Seperti ketika sedang memanaskan air, sedikit demi sedikit suhunya naik hingga suatu saat mendidih. Tapa adalah segala bentuk disiplin, fokus - mau di gua atau di sekolah dsb untuk meningkatkan diri dan kedisiplinan.


SEMEDI atau SEMADI juga sering dipahami seperti bertapa. KKBI pun mengartikannya sebagai pemusatan pikiran dan perasaan, meditasi. Padahal Semedi atau Semadi (samādhi) adalah buah dan hasil dari berlatih meditasi itu sendiri yaitu terjadinya keseimbangan diri sehingga kita tidak terombang-ambing suka-duka kehidupan. Dalam kondisi apapun manusia menemukan ketenangan diri, tidak mudah bereaksi (terutama reaksi-reaksi negatif) atau galau dan baperan dalam bahasa gaulnya 🤭


KARMA. Mereka bilang; "Biar aja nanti kena karmanya!" Kita mengungkapkan hal itu sebagai pengertian bahwa Karma adalah balasan, padahal karma berarti tindakan, perbuatan. Setiap karma, tindakan, aksi akan selalu diikuti oleh phala (buah) -pahala, hasil, reaksi, konsekuensi. Karma tidak selalu (punya konsekuensi) jelek, ada juga yang (konsekuensinya) baik, diharapkan dan indah. 


MOKSA sering dianggap hilangnya badan entah ke mana. Mokṣa adalah 1 dari 4 tujuan hidup manusia yg perlu dicapai dalam kehidupan ini tidak menunggu mati. Dari √muc, mokṣa berarti bebas - pembebasan, merdeka dari keterikatan dan kemelekatan sehingga tidak lagi menjadi budak nafsu, keinginan dsb atau bebas secara umum. Keinginan mencapai 'moksa' bukanlah sekedar 'pergi' atau melarikan diri dari dunia. Mereka yang sudah moksha malah sengaja "turun" ke dunia utk membantu perkembangan makhluk-makhluk lainnya. Mereka tdk naik-pergi (ascending), tetapi turun (descending). Itulah makna kata avatāra - ia yg turun.


MANTRA bukan sekadar jampi-jampi yg diucapkan dukun atau pawang seperti kata KBBI. Man-tra berarti instrumen (tra) pikiran (man) yg digunakan utk membantu kita mengendalikan pikiran. Menyatukan instrumental yang ada di alam semesta dengan apa yang berusaha terus menerus kita pikirkan (lewat mantra). Hal tersebut akan secara perlahan-lahan dan kemudian menjadi otomatis menciptakan kondisi pikiran yang tenang dan terkendali yang membuat kita śakti, mampu mengatasi masalah yang dihadapi dalam keseharian.


Satu kata punya seribu makna, memaknainya hanya perlu rasa yang baik dari dalam diri kita masing-masing. Menggali sebuah pengertian terhadap bahasa juga merupakan upaya diri memahami sesama 🤗💐🙏


Sumber: Made Harimba

Friday, October 30, 2020

WHO AM I?

WHO AM I?










nothing



Sosok Ilahi

Keilahian sering kali digambarkan pada sesuatu yang indah-indah atau sosok yang menarik dan suci. Mengapa demikian? Hal tersebut sangatlah lumrah karena sebagai manusia kita percaya bahwa yang ilahi adalah wujud ideal tertinggi. Maka segala yang ideal mendaulat tampilannya menjadi sesuatu yang indah dan baik. Sayangnya kita juga sering lupa bahwa keilahian sendiri berada dan menyatu dalam bentuk manusia fana. Keilahian juga tidak mungkin dicapai tanpa melalui bentuk yang fana tersebut, yaitu tubuh manusia. Pada awalnya pengertian ilahi yang tidak bisa kita definisikan dalam satu rupa menciptakan berbagai macam sosok ilahi sebagaimana tiap-tiap kepercayaan ingin direpresentasikan. Nyatanya tanpa kita sadari jarang sekali kita bisa menemukan sosok ilahi dalam bentuk rupa menakutkan, mengerikan dan jauh sama sekali dari keindahan. Tidak ada yang salah, karena pun ketika sosok ilahi ditampilkan dalam rupa-rupa nan elok, cantik-tampan dan suci, toh manusia jelas-jelas lebih mudah untuk memilih menjadi laku yang tidak elok, tidak cakap bahkan jauh dari suci sama sekali.

Dari sekian banyak tampilan sosok ilahi, saya dan mungkin kita semua telah terbiasa melihat hal yang sedikitnya merupakan gambaran-gambaran yang sempurna, bukankah kita juga ingin terlihat sesempurna Tuhan? Tetapi apakah artinya 'terlihat' jika kita sendiri tidak mampu melihat, mencari bahkan menampil bentuk kesempurnaan diri sejati? Sedikit sekali saya bisa menemukan bentuk dan gambaran sosok ilahi yang ditampilkan dalam rupa menakutkan, mengerikan bahkan sadis. Tetapi sejatinya adalah perwakilan keilahian dalam bentuk fana. Chinnamasta, sosok ilahi yang mewakili Atma-yajna dalam kepercayaan Hindu, Dewi tanpa kepala. Ia yang memanifestasikan pengorbanan diri yang diwujudkan ketika seseorang menyatukan dirinya atas kebebasan tertinggi sebagai bentuk keilahian melalui transformasi sebuah tindakan pengorbanan. Mengorbankan salah satu bagian terpenting dari bentuk fananya yaitu kepala. Kepala dimana segala pikiran dan pemikiran manusia bersemayam, simbol ego diri manusia. Manusia begitu mencintai pikiran, pemikiran sehingga manusia juga melekat erat dengan ego dan jauh dari idealisme tertinggi tak terbantahkan. Tidak ada yang mudah ketika dalam proses pencarian Diri Sejati, tidak ada yang sekejap dalam menemukan sosok ilahi di dalam diriMu. Seperti menaklukkan tubuh fana dan membebaskannya dari pikiran, begitulah yang dilakukan Chinnamasta. Menjadi terlihat elok dan cakap sayangnya memang cukup mudah bagi manusia, tetapi menjadi Ilahi hanyalah mungkin diakui oleh mata  batin sendiri.

🌼🌺🌻🌸

Selamat hari Tuhan, sudahkah anda 'memenggal kepala' anda sendiri? ❤️🙏

Referensi Chinnamasta

Revised 18/10/2020

Sunday, October 11, 2020

Kutastha

Dalam cahayaMu ada Aku

CahayaKu adalahMu

NafasKu membakar hidupMu

HidupKu adalah kobaran nafasMu

Kehadiran tidak pernah nyata, 

karena yang nyata tidaklah pernah hadir, 

Ialah satu dari segala

Jika mencinta adalah ruang tanpa tepi, tanpa jarak, tanpa syarat,

tanpa ada tanpa

maka Ia terapung di lautan asmaradana keilahian,

tenggelam di keabadian


revised 8/8/2020

Tuesday, September 1, 2020

Outer Silence VS Inner Silence

When you are seeing, hearing, touching, smelling, tasting, thinking, perceiving and doing everything you are also breathing. In healthy condition breathing is free. 


Because it is free then your awareness of what you provide to be consumed by your mind during breathing process will be lessen. The mind control of external circumstances also become loose even vanish. Then you'll be react easily based on what your five senses send to your mind. Sometimes it happened suddenly, sometimes you wait a little bit longer, but still, you will react. It's only about the matter of time as you are only postponed to react and unfortunately you brought the reaction(s) and hold it into your mind. It is the real and simply example of the different between outer silence and inner silence. Outer silence is just literary. It doesn't mean much while your mind is still running here and there, of course nobody knows, only you. Inner silence doesn't need a quite place or an empty room to shut down the mind. You can control it just like that. With inner silence you can still feel calm and bliss even in the middle of heavy party with a loud of music and lots of people. 

Theodor Adorno's desk at Frankfurt

In other hands, outer silence will bring you to no where and depends on the circumstances or other people surround you. But deeply inside, you know, actually you don't. Inner silence is totally independent. It is like a moving glass room of a strong relationship only between you and God and God within you in every place you go, stay and untouched.

Practice your inner silence and not outer silence as it is still connected with the silence of your sense organs. Only think about yourself and love others compassionately  ☺️💐🙏


a strong message on meditation, discussion and self reflection, Hmpp Center 1/9/2020

Monday, August 31, 2020

Anak Manusia

‪Anak manusia*

‪bercakap-cakap dengan senja‬

‪perihal rupa, ruang ‬‪dan senyap‬

‪Mata itu Dia, ‬

‪senyum itu Dia, ‬

wajahNya,

‪Wahai pencipta, penghuni relung segala damba‬,

‪bersemayamlah, ‬

‪pada setiap tarikan nafas,‬

‪selaksa lantun denyut nadi,‬

‪alunan sumsum tulang belakang,‬

‪Maha pencinta, Diri semesta‬

‪penghantar rayuan temaram hangat sinar purnama‬


‪Anak manusia*

‪bersenda gurau pada jingga,‬

‪tertawa, menari sambil bernyanyi, ‬

‪berlaku suka cita, senantiasa raga merasa

‪sedikit lagi, diulangi kembali‬

‪sedikit lagi, maka ‪mulailah,

bersabarlah ..

‪Pada mulanya Ia sabda, ‬

‪menjelma darah dan daging,‬

‪tumbuh bersama kitab dan puisi‬

‪Aku ini sementara anak manusia,‬

‪berkelana mencari sang Sejati,‬

‪mencintaiMu serupaKu‬


‪Pada manusia ada senja dan jingga,‬

‪Ia rupa, ruang dan senyap‬

‪terselam di kesadaran jiwa, ‬

‪setitik dari yang terdalam,‬

‪perolehan tak batas dan tanpa henti,‬

‪Akulah Ia‬*


* entering September, the month of divine ❤️

".. and when you are fall in love, you just don't want to stop singing and dancing. It's like a strong relationship that makes your heart beating everyday, every hour and its second. That's why you have to feel the way in fall in love with Him then you will see Him in every person you meet in your day to day lovely life."

Friday, August 21, 2020

pratibodhaviditaṁ mataṁ hi amṛtatvaṁ vindate

The feeling of misery and peaceful is not the true Self, as it is still attached with the mind that you aware of. The true bliss is untouched from both of them in everything that you do in your life. In Kena Upanishad it was said; "pratibodhaviditaṁ mataṁ hi amṛtatvaṁ vindate." 

~When It is known by perception that reflects It, then one has the thought of It, for one finds immortality~ 

* Every experience of Your life; the feelings, memories and emotions are the proof that You are the true witness, the conscious Self. And when You realized the infinite existence in life, not just in the temple or the church, not just at the time of praying even not just when you are in Samadhi, but also when you are talking, thinking or even laughing - untouched by the feeling which is projected from the mind as the true witness, that is the true bliss, the Self. When the Self is realized that is immortality 🌸🍀❤️🙏


10:11 - IB Center 

Tuesday, August 11, 2020

My Raghunath

Dear love, My Raghunath
I feel you a long ago,
minutes over days over years,
You are there,
tender hands of a sweet strong shoulder
when I fall, fall again
A storm need a shelter,
a home lays in your words
warmness of winter days

Friends and others may leave
shall your presence be endless,
be my undying melodies
Raghunath dear,
the feet of Rama steps unto my door,
let your name be my bless, 
to be whispered as my knowledge 
everlasting untouched 
to be with you, eternally


8/8 2020
IB Center

Tuesday, July 21, 2020

Kematian part.2

Bagi sebagian orang tema kematian merupakan sesuatu yang unik, menarik, misterius dan seksi. Kematian menurut mereka bukanlah sesuatu yang mengerikan ataupun menyedihkan sedikit pun, malahan sesuatu yang indah (mudah-mudahan begitu saat kejadian sesungguhnya). Sebut saja imajinasi-imajinasi kita tentang malaikat pencabut nyawa, keranda, menantang kematian (jika saya boleh gantikan kata 'bunuh diri'), nafas terakhir, mati suri, lubang kuburan, nisan, prosesi kematian, mayat, dsb sampai dengan reinkarnasi (silakan ditambahkan lagi). Saya sendiri dari dulu punya perhatian khusus tentang kematian. Menurut saya satu-satunya yang pasti dan absolut dalam kehidupan manusia hanyalah kematian. Itu dulu. ‬

‪Apabila disuruh memilih, saya akan lebih rela hati datang menghadiri sebuah upacara penguburan dibanding pesta pernikahan, jujur. Ada sesuatu yang membuat saya selalu ingin mengamati, menilai lalu belajar dan belajar dalam setiap peristiwa-peristiwa kematian tersebut. Mungkin termasuk pengingat, eling, orang Jawa bilang lalu merenung tidak jelas pastinya, gaya saya memang tidak pernah jelas hehe.. Terkadang saya suka sekali ikutan menitikan air mata, bukan karena terkenang yang berpulang, karena banyak juga dari mereka yang saya tidak kenal, tetapi terlebih karena aura senyap dan syahdu yang membuat saya terbawa suasana (saya pikir hampir setiap orang begitu), tetap saja saya menikmatinya. Tiga sampai empat bulan belakangan ini, saya sering sekali mendengar berita tentang kematian, baik dari teman terdekat saya (benar-benar dekat amat sangat sekali), tetangga sebelah rumah persis, sampai saudara jauh. Tentunya dengan kondisi seperti sekarang ini setiap prosesi penguburan terasa lebih menyedihkan bagi sanak dan kerabat yang ditinggalkan, baik bagi mereka yang dinyatakan meninggal bukan karena wabah, terlebih mereka yang meninggal dikarenakan positif terjangkit wabah tersebut. Mereka yang melayat jauh lebih sedikit jumlahnya dari kondisi saat wabah ini tidak pernah ada. Bukankah dalam pandangan kebanyakan semakin banyak yang melayat semakin mengidentifikasi strata sosial maupun interaksi dalam kehidupan yang bersangkutan? Tidak jarang juga biaya prosesi sebuah kematian pada sebagian orang menjadi  tak terhingga. Semakin menarik bukan, semua hal tadi semata-mata dilakukan dalam upaya penghormatan terakhir, sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi. Tetapi benarkah demikian bahwa mereka benar-benar sudah pergi? 

Setahun terakhir, cara saya melihat sebuah kematian lambat laun berubah, yah meski dari dulu saya percaya juga tentang reinkarnasi, meskipun konsep itu tidak pernah ada dalam ajaran agama saya. Kematian yang selama ini menjadi momok yang tidak lepas dari setiap kondisi dan situasi manusia ternyata lagi-lagi bukanlah sesuatu yang absolut. Kematian nyatanya tidak pernah membuat seseorang menjadi tidak ada lagi, sesungguhnya mereka hanya tidak ada dalam kehidupan yang diciptakan dan diprojeksikan dalam tubuh, pikiran melalui pengalaman-pengalaman manusia itu sendiri, baik mereka yang telah meninggal, juga bagi mereka yang telah ditinggalkan. Memori atau ingatan yang kita simpan saat ini hanyalah sekedar pengalaman-pengalaman yang kita lalui sejak kita dilahirkan sampai dengan sekarang ini. Nyatanya ada perihal lain yang jelas melampaui tema kematian yang selama ini saya pikir sebagai satu-satunya yang absolut dalam diri dan kehidupan manusia. Akhirnya hal-hal yang bertemakan kematian, baik yang menakutkan, menarik, misteri, seksi dan indah tadi semuanya hanya ilusi. ‬

Ada suatu ketika saya pernah membayangkan bahwa kematian juga seumpama kita yang sedang bersiap-siap memegang tiket antrian, sebuah nomer kematian. Setiap orang punya. Ironisnya meski sudah bersiap-siap dengan nomernya masing-masing (tentunya yang saya maksud adalah umur) tetap saja dilalah nomer lain yang dipanggil (Kematian part.1). Ketika saya membaca kembali apa yang pernah saya tulis, saya jadi tersenyum-senyum sendiri dengan apa yang pernah saya pikirkan. Satu tema sama dengan cara melihat yang berbeda, dari satu diri yang melewati fase waktu berbeda, ada yang mendekati, juga yang berbeda sama sekali, tetapi jelas berubah. Menyadari projeksi pengandaian yang saya ciptakan sedemikian rupa saat itu, saya menarik benang merah, bahwa apa yang saya bayangkan saat itu dengan apa yang sekarang ini saya yakini terletak pada perbedaan pemahaman akan sebuah kesadaran jati diri dalam melihat sebuah kematian. Kesadaran yang seperti apa? Tentunya bukan kesadaran yang kebanyakan dibayangkan orang ketika kita berbicara tentang kesadaran pada umumnya. Kesadaran umum hanya memberi pemahaman bahwa realitas kematian yang selama ini diyakini mengandung sebuah konsep waktu, datang dan pergi, ada lalu tiada, muncul dan hilang, hidup lalu mati. Tetapi kesadaran tertinggi adalah diri sejati. Hal ini bukanlah sebuah klaim keangkuhan yang berusaha menyatakan bahwa ia sudah melekat erat ketika kita mengetahuinya. Karena dalam konsep mengetahui lalu melekat membutuhkan tubuh dan pikiran, sementara diri sejati terbebas darinya. Kesadaran tidak pernah berdiam. Ia adalah sebuah perjalanan tanpa titik awal dan akhir, selalu ada hanya pada titik kesadaran akan keberadaan saat ini, bahkan ketika membaca tulisan saya ini. Diri sejati yang bersemayam dalam tubuh manusia sebagai cangkang sementara tidaklah pernah lenyap. Ia bukan tubuh juga bukan pikiran, baik lewat ingatan maupun kejadian-kejadian alamiah manusiawi yang berlangsung dalam kehidupan manusia itu sendiri. Ia masih akan ada dan satu dengan kita dalam bentuk dan rupa yang tak terbatas, melampaui proses-proses kelahiran juga kematian (konsep waktu). Tentu saja secara kasat mata, kita manusia tidak bisa mengenalinya kecuali membawanya pada pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan yang bersumber pada intelektual diri sejati. Intelektual atau kebijakan yang mengendalikan pikiran lewat lima tahapan yang terus menerus harus dilewati dan diasah (tahapan pertama: mendengarkan lalu  mengetahui tentang pengetahuan apa yang disampaikan, tahap kedua, memahaminya secara utuh baik lewat pemikiran dalam mempertanyakan kembali atau beargumentasi, tahap ketiga bentuk kontradiksi proses - mengerti tetapi tidak mengaplikasikannya dalam hidup, istilahnya hanya pemahaman sebatas teori, tahap keempat bermeditasi, tahapan yang terakhir - bukan hanya mengetahui, memahami, memikirkan dan mempertanyakannya kembali tetapi hal itu nyata dalam hidup saya, termanifestasikan dan teraplikasikan secara murni dalam kehidupan saya saat ini)*. Intelektual dari pikiran yang selama ini kita asumsikan sebagai suatu pandangan yang nyata sebagai diri pada posisi yang mengalaminya. Meski sesungguhnya juga bukan.

Add caption
Pengetahuan akan diri sejati sesungguhnya sudah ada hanya tidak dan belum diketahui, sudah tersedia hanya belum terlihat atau dilihat. Hal ini menjadi begitu penting karena pada akhirnya ketika sebuah pengetahuan akan diri sejati dikenali, maka temuan-temuan lain dan sebelumnya ada menjadi terbantahkan dan berguguran. Salah satu contohnya ketika saya pernah mengidentifikasi bahwa satu-satunya yang pasti ada dalam manusia dan kehidupannya adalah kematian. Tentu saja pada yang absolut atau pasti hanyalah satu, maka sisanya bukan. Tidak hanya itu, ia juga mampu memberikan solusi atas kesedihan dalam sebuah fenomena kematian bahkan solusi bagi setiap penderitaan manusia. Permasalahan yang datang silih berganti, muncul dan pergi, terus berulang-ulang dan pastinya tidak pernah menetap. Ketika berbicara solusi, tentunya bukan sebuah intensi dingin dalam mengesampingkan fenomena kematian yang ada apalagi dengan mengatakan bahwa pada akhirnya manusia, hidup serta kehidupannya tidaklah menjadi begitu penting lagi, malahan sebaliknya. Penting, berharga dan terutama. Pengetahuan tertinggi tersebut apabila pada akhirnya mampu melewati lima tahapan tadi, sejatinya merupakan kesadaran yang alamiah terjadi pada setiap orang, sesuatu yang biasa, ada dan sederhana. Sebuah pengalaman berkehidupan secara penuh, tanpa harus terjebak dengan masa lampau atau berspekulasi pada masa yang belum terjadi. Pengetahuan itulah yang akhirnya menjelma dalam pemahaman bahwa sebuah kematian tidak menghentikan apapun pada sosok manusia, karena sesuatu yang tidak terbatas tidak pernah selesai, tidak juga berpindah, meninggalkan ataupun mencapai suatu objek tempat yang seringnya kita asosiasikan sebagai surga atau pun neraka, sebuah pilihan atas pengandaian akhir dari kehidupan seorang manusia, atau bukan juga perjalanan kembali kepada Tuhan yang diasumsikan sebagai pemilik setiap kehidupan dan jagat raya. Tuhan tidak juga sebagai Ia yang berjarak. Diri sejati yang ada dalam cangkang sosok manusia juga bukan kesadaran yang terpisah-pisahkan satu dengan yang lainnya, sehingga ketika cangkang ditinggalkan maka kesadaran tetaplah ada dan nyata. Semuanya menjadi gugur karena keberadaannya hanyalah satu. Diri sejati yang tidak bertepi, tidak lain adalah saya, kamu, dia, mereka, saudara, pasangan dan semua yang melampaui segala identitas itu sendiri termasuk mereka yang telah meninggalkan tubuhnya. Dalam realitas diri sejati, tidak ada perbedaan maupun keterpisahan, tentunya ini ada karena nyata dalam hidup kita. Ia tidak juga ada dalam sebuah rentang waktu, hadir karena adanya kelahiran atau terpisah karena adanya kematian. Ia berada di dalammu juga, sebuah kesadaran atas keberadaan yang tidak terpisahkan secara universal. Realitas yang sama, konstan, tidak terpisahkan, kesatuan yang maha sempurna dan ilahi. Pengetahuan itu sendiri sederhana dan  terbebaskan, dari apapun. Keabadian menuju keabadian, maka ini menjadi bagian dari pengetahuan itu sendiri bahwa mereka tidak pernah berpulang, dari manapun dan kemanapun, kapanpun.

*Manisha Panchakam (lima tahapan yang ada dalam salah satu jalur penyerahan, jalur pengetahuan (jnana) dalam  philosophy Advaita Vedanta)
For further reference https://youtu.be/OuNEldqpNR4

Now you are alone, but alone in full consciousness mean oneness. One with me, one with them, one with universe. Completely one 🌸☘️❤️🙏

Friday, July 3, 2020

What is Your Liberation Means

Humans are very complex. They always create their own definition in their life - sadness, happiness, love, success story, right or wrong, good - bad, satisfaction and dissatisfaction and every single things in this life. They create everything without knowing the consequences which leads them to the problem itself, the suffering.

It is true that finally when we can really go down dig, we will find out that the only problem is - ourselves, yourself! But unfortunately people don't try to identify the problem in the very root cause, rather we are always busy on complaining about others, complaining about our conditions and other things which actually was created by ourselves of our own mind. The whole life we ​​live by seeing the same sky but having so many repeating same problem, this problem, that problem, lots of problems. In other hands, we keep busy in pointing others and condition surrounds us as problems but still couldn't find the solution. Or maybe we just don't want to find it. We keep our problem for so long and holds them as part of our life. Sometimes we don't realize that the solution is very simple by just leaving the problem. But then in 'leaving' process sometimes people forget to 'letting go and moving on'. In leaving the problem actually you are just leave the problem behind by memorizing them in your mind but you are not finding the solution. In 'letting go' you leave the problem by closing it with the solution, you forgive everything related to the problem and get liberated from the problem itself and start to moving forward from the problem itself. Sounds easy, huh? Sounds very easy....

Since the beginning we breath the air when we was born, we've been imprinted by the thoughts that we are a small and weak human being with our limited capability, the sinner and everything related to us is the darkness sides. The things that we have heard year by year from people who doesn't really understand him/herself - the idea of the Self, the true  liberation. In our life we are dealing with people who designed themselves by power relation, such as parents, religion leaders or politician, by degree, like a teacher, thinker or we are influencing by the same old lessons, the social interpretation and constructions. We are shaping by the books which tends to glorify the tragedy, irony, life mystery and its destructive as main theme. It becomes something common and natural, something sexy in human life, where our physically, intellectually and mentally image formed. Nobody talk about the very nature of our self, the eternal one.

Once upon a time, there was a sage who share a lesson about the highest knowledge, the supreme which beyond our imagination in front of the public space. He talked about the infinite things that could save humans from their sufferings. He asked them to accept the teaching - but some people stood up and said that they didn't agree for some points from that the lesson. The sage told them that of course as a human being with our intellectual we will always have a choice; to accept them or not. After hearing what the sage told to them, they left. Then the sage continues that such lesson is not for them who are get irritated easily with some of unpopular idea, different issue beyond usual topic. But even our eyes are open, our heart might be not. Therefore people always lack of compassion. People like them are always come back again and again just to compare and find faults on others or claiming the righteousness. This kind of situation is not happened only in formal discussion but thoroughly during our life, we will find this kind of people. It doesn't mean that the teaching is only provide one idea but it is also allowing variation of infinite concept in religion thoughts. Then what's the point in seeing one specific different thoughts or pattern if we, then could really open ourselves in seeing the true meaning of our infinite. The only way to reach the liberation of all our problem and suffering is within us.

Finally, it is important for us to understand what freedom or liberation means. Freedom doesn't lays in every decision we have made nor the people that we think will be liberated us from our suffering. It is us, as it is us who made the problem then it is us who can liberated ourselves from the problem itself by finding the true nature in us, the infinite, the side of our divinity. This is not an easy path to walk with. As further wisdom and virtue needs to be implemented in our life. It also give a deep message for all of us to ensure that when you leave something behind, make sure you don't come back just for something negative, comparing which one is right and which one is not or which one is better. If you come back make sure you ready for some changes on you, only you and nothing else. Because human in form is still human, you have the side of divinity but in terms of everything it also can drag you into the side of animal instinct down deep. Then again you have to question yourself - are you really get liberated?


Jul 2, 2020

Further reference for basic understanding https://youtu.be/X6lXT9perAw

Wednesday, May 13, 2020

Remind Me My Lord (Who I Am)

Remind me, me Lord
Remind me, my Lord
Remind me, my Lord - who I Am (2x)
I Am love, I Am love, pure love (2x)

Remind me, my Lord
Remind me my Lord
Remind me, my Lord - who I Am (2x)
I Am peace, I Am Peace, Divine peace (2x)

Remind me, my Lord
Remind me my Lord
Remind me, my Lord - who I Am (2x)
I Am joy, I Am joy, endless joy

Ananda Svaroopa, hey Prema Svaroopa, Ananda Svaroopa (2x)
Shanti Om, Shanti Om, Shanti Om (2x)

Remind me, my Lord
Remind me my Lord
Remind me, my Lord - who I Am (2x)
I Am Om, I Am Om, eternal Om (2x)
Shanti Om, Shanti Om, Shanti Om (2x)

A beautiful song by Swami Nirvanananda Saraswati ☘️🌹🙏
(Vedanta Society of Southern California)
https://youtu.be/dygPg6yTLWY

Thursday, April 30, 2020

The Opposites

‪It's very easy to direct people!‬
‪My great great great and very great Freud teach me how to do it,‬
‪When you said open,
they closed
you said come on, ‬
‪they go,‬
‪You said no, ‬
‪they just did, ‬
‪you ask please hold them
‪they release them
You said please build up, ‬
‪they destroy it
You said please remember,
they forget intentionally
‪You said good,‬
‪they said bad‬
‪Because people full of ego, anger, pride and jealousy. ‬
‪They tends to the opposite ways,
don't like make people happy,
but they pursue their own happiness‬
So sadness..

‪Then the idea came up,
to control them, said Freud!
Wow! It becomes very, very easily,‬
‪If you want it closed,
ask them to open it
If you want they go,‬
‪just said please come,‬
‪If you want they do it,
just said don't,‬
‪If you want they release,‬
‪ask them to hold it,‬
If you want it being destroyed
Just said build it up,
If you want them to forget,
Said please remember
You want them said it is bad?
Just said that it's good
In the past I practice and it was pretty successful
It's the power of language!
time flies, people still the same,
again they full of ego, anger, pride and jealousy
‪They tends to the opposite ways,
People don't like make other satisfied,
unfortunately they pursue their own satisfaction
So sadness.. So so sadness!
Why can't their heart see the beauty in others?
Why can't they feel the great things in others?
Why can't be humble to each other?
Why? Why?..
and I cry, cry and cry..
how cruel people are,
how such cruel things..

Then He comes,
touch my forehead,
why you are asking?
Close your eyes, my child!
I touch His hands
Just like that,
Just like that
He said, leave them all,
Follow me!
I leave them all and I follow Him
.. and it's not the thing in the opposite side.

20/04/2020

Tuesday, April 21, 2020

Mengapa?

Apakah terlalu banyak 'mengapa' dalam kehidupan manusia?

Orang terdekat saya bertanya pada saya; "Mengapa kamu harus selalu bertanya 'mengapa' ketika seseorang menyuruhmu melakukan sesuatu hal yang baik tanpa penjelasan lebih terperinci?"

Tentu saja saya jawab;"Why not?" atau bahasa bersahajanya; "Mengapa tidak boleh?"

Haa!! Belum apa-apa sudah ada tiga kali penggunaan kata "mengapa"   

'Mengapa' adalah bentuk formal lainnya dari kata 'kenapa' - sebuah kata tanya yang menanyakan alasan atau sebab. Mengapa juga bentuk tidak langsung atas sebuah dari keingintahuan, ketidakpuasan dan/atau keraguan atas kalimat, pernyataan atau hal-hal yang dinyatakan sebelumnya.
 
Sebagian orang memberikan reaksi rata-rata dengan berpendapat; iyakan saja, supaya (semuanya bisa) cepat (dan tidak bertele-tele), ada juga yang berpendapat bahwa kita harus bisa bilang 'tidak' untuk setiap hal tanpa melontarkan pertanyaan 'mengapa?'

Tapi mengapa harus melakukan kedua hal diatas tersebut, bagaimana kalau kita balik?

Mengapa kita harus selalu 'iyakan' padahal ada hal-hal lain yang memang harus disanggah, disampaikan, diluruskan yang mungkin bisa merubahnya menjadi 'tidak'. Tentunya dengan cara bertanya terlebih dahulu, ya dengan bertanya 'mengapa'?

.. dan mengapa kita harus langsung berkata 'tidak' kalau ternyata bisa menjadi 'iya' setelah mendapat penjelasan terperinci dengan lagi-lagi bertanya, 'mengapa?'

Ya, mengapa kita harus berhenti menggunakan kata tanya "mengapa?"
Bisa mengikuti? Tidak bisa, mengapa?

Saturday, April 18, 2020

Rindu Jalan Pulang

Rindukah kau jalan pulang?‬
‪setapak jauh kian sesakkan dada ‬
‪Seraut wajah Tuhan,
orang-orang yang terkasih‬

‪Genggam yang berjarak, ‬
‪rajutlah di hatimu, ‬
‪dekat sekali, terhubung di langit yang sama‬
‪Semesta adalah kita,
maka bertemu datang saat mata terpejam
‪Masihkah kau rindu jalan pulang?


10 April, 2020
untuk yang sedang merindu kampung halangan 🙏

Friday, March 27, 2020

Wednesday, March 18, 2020

Social Distancing

Social Distancing' dimulai hari ini. Kantor dan sekolah mulai diliburkan, termasuk untuk menghindari tempat-tempat publik dan bentuk himbauan lainnya. Secara pribadi saya menyambut baik hal ini sebagai bentuk penggalakan kewaspadaan manusia terhadap segala perubahan perihal duniawi. Kita diajak menelaah kembali cara hidup sehat ketika kita mulai lagi benar-benar sesering mungkin mencuci tangan dan mencoba mengolah makanan bersih dari dapur sendiri, memberi arti pada nilai-nilai interaksi sosial ketika kita mulai mengurangi latah pergi kesana kemari untuk kesenangan semata, atau ketika berusaha menghargai hidup orang lain dengan hal kecil seperti memakai masker atau menutupi mulut dengan sapu tangan saat dalam kondisi flu, kita diingatkan lagi untuk bersabar dan mengontrol emosi ketika menunggu instruksi serta koordinasi dari pihak mana pun yang berusaha semaksimal mungkin mencegah dan menurunkan wabah ini tanpa perlu menjadi paling tahu dan paling benar atau paling pintar. Sisanya kita diwajibkan untuk kembali benar-benar menghargai waktu, bukan semata-mata seperti dalam istilah 'time is money' tetapi lebih pada kemampuan mempertanggungjawabkan waktu dalam peran kita-saat semua pekerjaan wajib dilakukan secara 'remotely' atau 'working from home'. Sedikitnya kita juga jadi punya banyak waktu berdiam diri di rumah, merefleksikan diri atau berkontemplasi pada sang khaliq. Pada akhirnya masih banyak remeh temeh lainnya yang mulai diabaikan manusia kembali menjadi indah untuk dilakukan 💐☘️

Karena berdiam diri tak pernah mudah bagi makhluk sosial seperti kita maka merubah perilaku sejenak tidak akan menyakiti siapapun 🤗🙏